Sriwijaya hariini.com,,- Dalam dua dekade terakhir, media sosial telah berubah dari sekadar ruang interaksi digital menjadi arena penting dalam mobilisasi politik. Indonesia sebagai negara dengan sistem presidensial dan Australia dengan sistem parlementer sama-sama mengalami pergeseran strategi politik dari ruang fisik ke ruang digital. Platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan X (Twitter) kini menjadi sumber berita sosial yang cepat, interaktif, dan membentuk opini publik.
Artikel ini membandingkan bagaimana media sosial berperan dalam menggerakkan partisipasi politik pada dua sistem pemerintahan yang berbeda, serta bagaimana karakter sistem politik memengaruhi gaya komunikasi elit politik dan respon masyarakat.
Sistem Politik: Presidensial vs Parlementer (Ringkas).
Indonesia – Sistem Presidensial
•Presiden dipilih langsung oleh rakyat.
•Kekuasaan eksekutif relatif stabil selama satu periode.
•Kampanye sangat tergantung pada figur presiden dan citra personal.
Australia – Sistem Parlementer
•Perdana Menteri dipilih oleh partai pemenang di parlemen.
•Fokus kampanye cenderung pada partai, bukan individu.
•Pergantian Perdana Menteri dapat terjadi tanpa pemilu nasional.
•Perbedaan struktur inilah yang memengaruhi bagaimana media sosial digunakan dalam politik.
Media Berita Sosial dan Mobilisasi Politik
Peran media sosial menurut pemberitaan digital
Media berita sosial — seperti CNN Indonesia, ABC News Australia, Kompas, The Guardian, BBC News Australia, Tempo, dan Liputan6 — sering menyoroti bagaimana politisi menggunakan media sosial untuk:
•membentuk citra positif
•menyebarkan pesan kampanye
•melakukan klarifikasi isu
•memobilisasi relawan digital
•atau mempengaruhi sentimen publik secara cepat.
Dalam konteks Indonesia dan Australia, fungsi itu memiliki dinamika yang berbeda.
Analisis Perbandingan
Indonesia (Sistem Presidensial)
1. Kultus Personal (Personality Politics) Media sosial penuh dengan pemberitaan tentang figur seperti Jokowi, Prabowo, Ganjar, atau Anies. Gaya kampanye sangat menonjolkan citra personal, memperkuat fanbase, dan menciptakan komunitas digital.
2. Mobilisasi Massa Lebih Mudah Berita sosial tentang kampanye akbar, konser politik, hingga aksi relawan digital (misalnya “paspampres fans”, “relawan medsos”, atau viral video kampanye TikTok) menunjukkan bahwa mobilisasi terjadi cepat dan masif.
3. Konten Emosional Sangat Dominan Algoritma TikTok dan Instagram memicu konten dramatik, seperti video edit, story rilis data, atau potongan debat, yang sering viral dan memengaruhi sentimen.
4. Isu sering datang dari media sosial dulu Banyak berita nasional awalnya viral di Twitter/X atau TikTok sebelum masuk media televisi.
Implikasi: Mobilisasi politik di Indonesia menjadi fenomena budaya digital dengan dukungan massa yang cair dan mudah berubah.
Australia (Sistem Parlementer)
1. Fokus pada Partai, bukan Figur Media berita sosial Australia seperti ABC News atau SBS sering menekankan kebijakan partai, bukan sosok personal. Kampanye digital Partai Buruh (Labor) atau Koalisi Liberal-National lebih menonjolkan program, bukan kepribadian pemimpin.
2. Regulasi Ketat Australia punya aturan ketat mengenai iklan politik, penggunaan data pengguna, dan transparansi pendanaan. Hal ini membuat kampanye digital lebih terkontrol.
3. Mobilisasi Politik Lebih Tenang Berita sosial memperlihatkan bahwa pemilih mobilisasi melalui debat isu (climate change, pajak, kesehatan), bukan konser atau acara massal seperti Indonesia.
4. Media Sosial Sebagai Ruang Edukasi Politik Konten kampanye cenderung informatif dan berbasis data, dengan liputan serius dari media seperti The Guardian Australia atau ABC.
Implikasi: Mobilisasi politik lebih rasional, terukur, dan terikat ke struktur partai.
5. Aspek Perbandingan Utama
Indonesia (Presidensial)
Fokus kampanye: Figur presiden/capres
Gaya mobilisasi: Emosional,viral,fanbase
Peran media sosial: Sangat dominan, membentuk narasi
Pengaruh berita sosial: Mengangkat isu viral ke agenda nasional
Dampak ke pemilihan: Mudah terpengaruh konten viral
Australia (Parlementer)
Fokus kampanye: Partai & program
Gaya mobilisasi: Rasional, terstruktur
Peran media sosial: Penting tetapi diatur ketat
Pengaruh berita sosial: Menyaring isu melalui Regulasih & media resmi
Dampak ke pemilihan: Mengikuti panduan partai & media resmi
Media sosial memiliki peran besar dalam mobilisasi politik baik di Indonesia maupun Australia. Namun karakter setiap negara yang dipengaruhi oleh sistem politiknya menyebabkan perbedaan signifikan.
Indonesia lebih bergantung pada figur, konten viral, dan mobilisasi digital yang masif.
Australia lebih fokus pada program partai, kampanye teratur, dan regulasi yang kuat.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa sistem politik mempengaruhi gaya komunikasi dan bagaimana masyarakat merespons berita sosial.
( M GALUH ALAMSYAH
Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang )



