Sriwijaya hariini.com,,- Komisi IV DPR RI memanggil Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni untuk memberikan penjelasan terkait temuan ribuan kayu gelondongan yang hanyut dalam banjir besar di sejumlah wilayah Sumatera. Pemanggilan ini dilakukan setelah video dan foto tumpukan kayu tersebut viral dan menimbulkan tanda tanya besar di masyarakat.
Fenomena kayu gelondongan muncul setelah banjir menerjang beberapa daerah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dalam rekaman yang beredar, warga tampak kebingungan melihat sungai yang dipenuhi kayu dalam jumlah besar. Banyak dari kayu itu tampak berukuran seragam, dengan potongan rapi seperti hasil tebangan, bukan pohon tumbang alami.
Kecurigaan DPR: Volume Kayu Tak Wajar
Sejumlah anggota Komisi IV menganggap jumlah kayu yang terbawa banjir terlalu besar untuk dianggap kebetulan. Mereka menilai ada persoalan serius di kawasan hulu yang perlu dipastikan pemerintah, terutama terkait pengelolaan hutan, aktivitas perusahaan, dan potensi pembalakan liar.
“Kalau pohon tumbang karena banjir, biasanya bentuknya acak dan bercampur akar. Ini yang terlihat potongannya rapi. Harus kita selidiki,” ujar salah satu anggota Komisi IV dalam pernyataan yang disampaikan ke media.
DPR menilai bahwa banjir besar disertai material kayu merupakan indikasi rusaknya kawasan tangkapan air. Mereka menduga ada pembukaan atau penebangan hutan dalam skala besar yang tidak tercatat atau tidak diawasi.
Investigasi Menjadi Prioritas
Dalam agenda rapat yang akan digelar pekan ini, DPR ingin mendapatkan jawaban rinci dari Menhut mengenai:
identifikasi awal sumber kayu,
status kawasan hutan di lokasi banjir,
aktivitas perusahaan atau pemegang izin di wilayah tersebut,
serta langkah pemerintah dalam menindaklanjuti temuan kayu yang diduga hasil tebangan.
Selain itu, beberapa anggota mendorong pembentukan tim investigasi gabungan antara pemerintah pusat, aparat penegak hukum, dan pemerintah daerah untuk menelusuri asal kayu secara objektif.
Respons Pemerintah: Masih Mengumpulkan Data
Kementerian Kehutanan menyatakan tengah memverifikasi laporan lapangan dari berbagai daerah. Pemerintah mengakui bahwa sumber kayu bisa beragam: mulai dari pohon tumbang alami, hasil tebangan legal, hingga kemungkinan aktivitas ilegal yang memanfaatkan lemahnya pengawasan di lapangan.
Namun pihak kementerian belum menyimpulkan apa pun sebelum proses pengecekan selesai.
“Kami sudah turunkan tim, dan sedang memastikan apakah kayu-kayu tersebut berasal dari hutan produksi, kawasan konservasi, atau aktivitas lain. Semua harus didasarkan pada data,” ujar pejabat Kemenhut yang dikonfirmasi wartawan.
Dampak Sosial dan Lingkungan
Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga menyulitkan warga terdampak banjir. Gelondongan kayu yang menumpuk di jembatan dan aliran sungai memperparah arus banjir dan menghambat proses evakuasi. Sejumlah warga mengaku trauma karena melihat kayu sebesar itu terbawa arus tepat di sekitar rumah mereka.
Di sisi lain, aktivis lingkungan menilai insiden ini sebagai bukti bahwa tata kelola hutan di beberapa wilayah Sumatera masih bermasalah. Mereka menyoroti lemahnya pengawasan terhadap izin perusahaan dan minimnya rehabilitasi kawasan bukit atau daerah aliran sungai.
Pemanggilan Menhut Menjadi Momentum Evaluasi
Komisi IV menegaskan bahwa pemanggilan Menhut bukan sekadar membahas viralnya video kayu hanyut, tetapi sebagai langkah awal untuk mengevaluasi kebijakan kehutanan secara menyeluruh. Mereka menilai bahwa jika asal kayu tidak ditelusuri tuntas, kejadian serupa akan terus berulang di masa depan.
“Ini bukan hanya soal banjir. Ini soal masa depan hutan kita,” kata salah satu anggota DPR.
Pertemuan dengan Menhut dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Publik menanti penjelasan resmi pemerintah mengenai apa yang sebenarnya terjadi di hulu sungai Sumatera dan apakah ribuan kayu itu hanyut karena bencana alam semata, atau justru akibat ulah manusia.
( Hayu Kusumawati
Mahasiswa Ilmu Politik UIN Raden Fatah Palembang )



