Palembang, Sriwijaya-hariini.com – Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Sumatera Selatan memiliki sejarah panjang sebagai ruang kebersamaan, identitas, dan solidaritas masyarakat Sulawesi Selatan di tanah rantau. Namun dalam hampir satu dekade terakhir, dinamika organisasi yang dahulu hidup dan penuh energi mulai meredup. Program tidak berkesinambungan, konsolidasi melemah, dan kiprah organisasi kehilangan daya dorongnya.
Di tengah kondisi tersebut, momentum suksesi yang akan berlangsung menjadi sangat strategis. Bukan hanya urusan pergantian kepengurusan, tetapi kesempatan untuk menentukan arah baru dan mengembalikan marwah KKSS Sumsel sebagai organisasi besar yang dihormati.
Ketua DPW Himas-Sumsel sekaligus tokoh pemuda Sumatera Selatan, Ir. Suparman Romans, M.Si, menyampaikan seruan penting mengenai arah suksesi tersebut.
“Suksesi kali ini harus kita maknai sebagai momen kebangkitan. Ini bukan soal siapa yang duduk sebagai ketua, tetapi siapa yang mampu mengembalikan reputasi dan kehormatan KKSS Sumsel sebagai organisasi besar yang berakar pada nilai, budaya, dan integritas,” ujar Suparman.
Suparman menegaskan bahwa integritas harus menjadi fondasi utama dalam menentukan pemimpin organisasi.
“Pemimpin KKSS Sumsel bukan hanya penggerak organisasi, tetapi penjaga marwah komunitas. Tanpa integritas, organisasi mudah tergelincir dalam kepentingan sempit dan pragmatis. Kita membutuhkan figur yang bersih, jujur, teguh sikapnya, dan mampu berdiri di atas kepentingan bersama,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa integritas bukan slogan, tetapi kompas moral yang mengarahkan keputusan-keputusan strategis organisasi.
Suparman juga memberi penekanan pada kekeliruan yang kerap terjadi dalam proses pemilihan pemimpin organisasi kedaerahan.
“Kekayaan pribadi bukan jaminan keberhasilan memimpin organisasi. Ketika organisasi dibangun dengan patronase, yang tumbuh adalah ketergantungan, bukan kemandirian. KKSS Sumsel harus keluar dari pola pikir seperti itu,” tegasnya.
Menurutnya, organisasi yang bergantung pada kemampuan finansial individu akan kehilangan daya hidup begitu dukungan personal itu berhenti.
Di sisi lain, Suparman mengingatkan bahwa jabatan politik tidak otomatis menjadi modal memimpin komunitas berbasis budaya.
“KKSS adalah rumah budaya, bukan ruang politik praktis. Pemimpinnya harus memahami nilai Siri’ Na Pacce, karakter perantau, dan dinamika sosial anggota. Ini memerlukan sensitivitas kultural, bukan semata akses politik,” jelasnya.
KKSS Sumsel, menurut Suparman, memerlukan pemimpin yang memiliki visi jangka panjang dan mampu menerjemahkannya dalam program nyata.
“Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya tampak di baliho, tetapi hadir dalam kerja-kerja strategis. Yang mampu menyatukan potensi ekonomi, budaya, sosial, dan generasi muda agar KKSS tetap relevan dengan tuntutan zaman,” katanya.
Mengakhiri pernyataannya, Suparman Romans mengajak seluruh elemen KKSS Sumsel agar menjadikan suksesi sebagai momentum kolektif untuk memperkuat organisasi.
“Mari kita pastikan momentum ini melahirkan pemimpin terbaik—pemimpin yang menjaga nilai, membawa visi, dan mempersatukan seluruh elemen. Kita tidak boleh mengulang kesalahan yang sama. Ini saatnya KKSS Sumsel bangkit dan kembali menjadi kekuatan yang dihormati,” tutupnya. (Nopi)



