Palembang, Sriwijaya-hariini.com – Di tengah gemuruh perayaan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober, suasana berbeda terasa di lingkungan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 244 Palembang. Bukan sekadar seremonial bendera atau pidato kaku, sekolah ini memilih merayakannya dengan refleksi mendalam tentang bagaimana nilai-nilai luhur bangsa itu harus “hidup” dalam keseharian anak-anak didik.
Lisfori S.Pd.,M.Pd Kepala Sekolah SDN 244 Palembang, menyampaikan pesan khusus yang menggugah kesadaran kolektif para pendidik, orang tua, dan masyarakat. Bagi beliau, Pancasila bukan monumen sejarah yang diam, melainkan kompas moral yang harus terus dipraktikkan dalam interaksi sehari-hari.
“Pancasila sering kali kita ajarkan sebagai butir-butir hafalan untuk ujian. Namun, esensi sebenarnya terletak pada bagaimana kita memperlakukan sesama,” ujar Lisfori dalam keterangannya, Senin (28/09/2026).
Lisfori menekankan bahwa pendidikan karakter berbasis Pancasila harus dimulai dari hal-hal kecil yang humanis. Menanamkan rasa toleransi tidak perlu dengan teori rumit, tetapi cukup dengan mengajarkan siswa untuk menghargai teman yang berbeda pendapat, membantu teman yang kesulitan, dan bersikap adil dalam permainan.
“Di SDN 244 Palembang, kami berusaha menjadikan sekolah sebagai laboratorium mini keberagaman. Anak-anak belajar bahwa perbedaan itu indah jika dikelola dengan semangat gotong royong dan musyawarah. Ini adalah inovasi pendidikan karakter yang kami terapkan; membuat Pancasila menjadi ‘nyawa’ dalam setiap aktivitas belajar, bukan hanya tempelan dinding kelas,” tambahnya.
Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Para guru di SDN 244 Palembang merasa tertantang untuk lebih kreatif dalam mengintegrasikan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan ke dalam metode pengajaran modern yang menyenangkan bagi anak-anak generasi Z dan Alpha.
Lisfori juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lelah merawat ideologi bangsa. Menurutnya, tantangan zaman digital yang penuh dengan hoaks dan perpecahan membutuhkan benteng Pancasila yang kuat, yang dibangun sejak dini melalui pendidikan dasar yang berkualitas dan penuh kasih sayang.
“Mari kita rayakan Hari Kesaktian Pancasila dengan cara terbaik: menjadi manusia yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih Indonesia. Karena masa depan bangsa ini ditentukan oleh bagaimana kita mendidik anak-anak kita hari ini,” pungkas Lisfori menutup pernyataannya dengan penuh semangat.
Melalui pesan ini, SDN 244 Palembang kembali menegaskan komitmennya bukan hanya sebagai institusi pencetak nilai akademik, tetapi sebagai garda terdepan dalam membentuk karakter generasi penerus yang Pancasilais sejati—cerdas secara intelektual, namun matang secara emosional dan spiritual. (Nopi)


