Palembang, Sriwijaya-hariini.com – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober tak hanya soal upacara dan bendera setengah tiang. Bagi SMP Negeri 19 Palembang, momentum ini adalah pengingat bahwa Pancasila harus hidup di lorong kelas, di kantin, hingga di layar gawai para siswa.
Kepala SMP Negeri 19 Palembang, Devi Emilya, S.Pd., M.Pd., mengatakan Pancasila tidak boleh berhenti sebagai teks yang dihafalkan. Menurutnya, nilai-nilai itu baru bermakna ketika dipraktikkan dalam keseharian anak-anak.
“Pancasila itu bukan pelajaran yang selesai saat bel berbunyi. Ia harus tampak saat siswa saling menghargai, jujur mengerjakan ujian, mau membantu teman yang kesulitan, dan berani berkata tidak pada perundungan,” ujar Devi di Palembang, Senin.
Ia menilai tantangan generasi hari ini berbeda dari generasi terdahulu. Derasnya arus informasi dan media sosial, kata dia, membuat anak-anak mudah terpapar ujaran kebencian, hoaks, hingga sikap intoleran. Karena itu, sekolah berperan menanamkan benteng karakter sejak dini.
“Anak-anak kita hidup di dunia digital. Tugas kami di sekolah adalah memastikan mereka tumbuh cerdas sekaligus berkarakter, berani berbeda tanpa membenci, dan bangga menjadi Indonesia,” katanya.
Devi menegaskan, semangat Kesaktian Pancasila juga menjadi pelajaran tentang keteguhan bangsa menjaga ideologinya di tengah ujian sejarah. Nilai itu, menurutnya, relevan untuk membentuk pelajar yang tangguh, peduli, dan berintegritas.
Ia pun mengajak seluruh warga sekolah, mulai dari guru, tenaga kependidikan, siswa, hingga orang tua, untuk bergandengan tangan menjadikan Pancasila sebagai budaya sekolah.
“Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Mari jadikan Pancasila bukan hanya ada di dinding kelas, tetapi tumbuh di hati dan tercermin dalam sikap kita setiap hari. Pancasila Sakti, Indonesia Maju,” ucapnya.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di SMP Negeri 19 Palembang diharapkan menjadi pemantik lahirnya generasi muda Sumatera Selatan yang menjunjung persatuan, gotong royong, dan keadilan sosial. (Nopi)


