Palembang, Sriwijaya-hariini.com – Pengembangan usaha madu masyarakat di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) terus didorong agar memiliki kualitas yang semakin baik, aman, bernilai tambah dan mampu menembus pasar yang lebih luas.
Langkah tersebut diwujudkan melalui Pembukaan Bimbingan Teknis Pengolahan Madu dalam Rangka Meningkatkan Pengembangan Kualitas Madu dan Persiapan Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) bagi Unit Pengolahan Madu (UPM) pada Desa Prioritas IMPLI dan Desa di Sekitar Ekosistem Gambut Kabupaten Musi Banyuasin.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Rid’s Palembang pada 16-17 September 2026 ini menjadi bagian dari program Pengelolaan Gambut Terintegrasi di Sumatera Selatan (IMPLI), dengan peserta berasal dari desa-desa prioritas IMPLI serta desa di sekitar ekosistem gambut Kabupaten Muba.
Koordinator IMPLI Kabupaten Muba, Adiosyafri, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu fasilitasi penting dalam mendorong masyarakat agar tidak hanya mampu memproduksi madu, tetapi juga meningkatkan kualitas pengolahan hingga memenuhi persyaratan menuju sertifikasi NKV.
“Ini sebenarnya kegiatan yang kesekian kali di bawah project IMPLI. Sebelumnya sudah ada bimtek peternakan sapi, biodigester, rehabilitasi lahan, pengendalian KARHUTLAH dan kegiatan lainnya. Untuk kali ini fokusnya pengembangan dan peningkatan kualitas madu serta persiapan sertifikasi NKV baik madi budidaya maup[un madu alam,” ujar Adios.
Menurutnya, salah satu potensi yang dikembangkan adalah madu budidaya jenis Apis mellifera yang dikelola kelompok masyarakat di Desa Kepayang, Kecamatan Bayung Lencir, Muba.
Budidaya madu tersebut tidak sekadar menjadi aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi alternatif penghasilan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan gambut.
Berbeda dengan madu hutan yang sangat bergantung pada kondisi alam dan musim, madu budidaya memungkinkan produksi lebih terkontrol.
“Kalau madu hutan produksinya tidak bisa diprediksi karena tergantung musim. Kalau budidaya ini lebih terkontrol. Dalam kondisi tertentu, lebah bisa berproduksi sekitar 20 sampai 22 hari dalam sebulan,” jelasnya.
Saat ini, kelompok binaan di Desa Kepayang telah memiliki sekitar 147 kotak lebah. Pengembangan kelompok dilakukan secara bertahap sejak 2024 dan 2025. Sementara pada 2026, perhatian juga diarahkan kepada kelompok perempuan untuk mengelola rumah produksi.
Rumah produksi itu diharapkan menjadi salah satu pintu masuk bagi Madu Kepayang untuk memperoleh sertifikasi NKV, sehingga pengelolaannya memiliki standar yang lebih baik dan memberikan kepercayaan lebih kepada konsumen.
Selama ini pemasaran madu masyarakat masih didominasi pasar lokal. Harga madu berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp60 ribu per botol, sedangkan untuk pasar hingga Palembang dapat mencapai sekitar Rp100 ribu, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kegiatan.
Kepala Dinas LH Kabupaten Muba, M. Thabrani Rizki, berharap proses menuju NKV dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk madu masyarakat Kepayang.
“Harapan kita Madu Kepayang dan beberapa desa lain yang ada di ekosistem gambut ini mendapatkan sertifikasi NKV, sehingga memiliki izin edar dan lebih leluasa memasuki pasar. Kita ingin madu ini bisa bersaing dengan produk lainnya,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan ekonomi masyarakat melalui madu juga memiliki hubungan erat dengan keberlanjutan ekosistem gambut.
Menurutnya, ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari lingkungan yang dijaga, akan tumbuh dorongan yang lebih kuat untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut yang lestari dan berkelanjutan.
“Upaya peningkatan perekonomian masyarakat harus sejalan dan terintegrasi dengan pelestarian lahan dan ekosistem gambut. Kalau perekonomiannya meningkat, masyarakat akan semakin tergerak untuk menjaga gambut, termasuk dalam upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran,” ungkapnya.
Tantangan lingkungan tetap menjadi perhatian. Asap dan kebakaran dapat mengganggu budidaya lebah karena kondisi tersebut berpotensi membuat lebah meninggalkan kotaknya.
Dari sejumlah desa binaan IMPLI di Muba, keberadaan budidaya madu di Kepayang menjadi salah satu contoh bagaimana aktivitas ekonomi dapat berjalan bersamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kalau banyak asap atau terjadi kebakaran, lebah bisa pergi. Karena itu masyarakat ikut menjaga kondisi lingkungannya. Budidaya madu ini juga menjadi bagian dari alasan masyarakat untuk menjaga kawasan mereka,” tuturnya.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Muba melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Peternakan Kabupaten Muba turut memberikan pembinaan, termasuk dukungan infrastruktur budidaya, sarana prasarana, penguatan kelompok serta pembinaan secara berkala.
Melalui bimbingan teknis ini, masyarakat diharapkan mampu menghasilkan madu dengan kualitas yang semakin baik, stabil dan konsisten, sekaligus mempersiapkan Unit Pengolahan Madu (UPM) untuk memenuhi persyaratan sertifikasi NKV.
“Target kita kualitas madu meningkat, stabil dan konsisten. Kemudian Madu Kepayang bisa mendapatkan sertifikasi NKV. Kita yakin itu bisa dilakukan karena bahan bakunya kita punya,” pungkas Thabrani. (Nopi)


