Bayung Lencir,sriwijayahariini.com,,- Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bayung Lencir memicu luapan air dari Sungai Air Berau dan Sungai Selaro. Akibatnya, Jalan Desa Selaro di Dusun 3, Desa Simpang Bayat, terendam banjir hingga membuat aktivitas warga terhenti total, Rabu (15/04/2026).
Menurut keterangan warga dan Kepala Dusun 3 Selaro, Suteris, ketinggian air di atas badan jalan desa bervariasi antara 90 sentimeter hingga mencapai 100 sentimeter. Kondisi ini membuat akses lalu lintas benar-benar tertutup.
“Air setinggi paha orang dewasa. Motor, mobil, semua nggak bisa lewat. Aktivitas warga lumpuh total,” ungkap Suteris saat dikonfirmasi.
Banjir yang datang dengan cepat ini diduga kuat dipicu oleh maraknya pembukaan lahan yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan di wilayah hulu sungai. Warga menilai pembukaan lahan tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan, sehingga menyebabkan air hujan langsung mengalir deras ke sungai tanpa terserap tanah, yang pada akhirnya memicu luapan yang lebih cepat dan besar ke arah pemukiman.
Sebagaimana diketahui, mata pencaharian dan sumber ekonomi utama warga di wilayah ini sangat bergantung pada sektor pertanian, dengan komoditas terbanyak berupa perkebunan kelapa sawit. Luapan kedua sungai tersebut kini menyulitkan warga untuk mengangkut hasil panen ke luar dusun. Selain itu, pasokan bahan pokok dari luar juga terhambat.
Kondisi ini rupanya bukan kejadian baru. Jalan Desa Selaro disebutkan hampir setiap tahun selalu tergenang saat musim hujan. Oleh karena itu, warga sangat berharap dan memohon kepada pemerintah agar segera mencari solusi yang tepat terkait infrastruktur jalan tersebut. Warga menginginkan agar jalur tersebut ditingkatkan atau ditangani sedemikian rupa sehingga saat air sungai meluap, badan jalan tetap aman dan tidak terendam banjir.
Banjir tidak hanya merendam pemukiman dan jalan desa, namun juga meluas menenggelamkan jalur proyek pembangunan hauling batubara milik PT Marga Bara Jaya (MBJ) yang melintas di wilayah tersebut. Menanggapi kondisi ini, pihak perusahaan memberikan keterangan secara tertulis melalui pesan daring.
Perwakilan PT MBJ menjelaskan bahwa genangan air yang cukup tinggi membuat jalur operasional menjadi tidak layak dan berbahaya untuk dilalui kendaraan berat. Oleh sebab itu, demi keselamatan dan keamanan bersama, pihaknya terpaksa menghentikan seluruh aktivitas di lokasi untuk sementara waktu hingga air benar-benar surut dan kondisi aman kembali.
“Benar adanya bahwa jalur hauling kami ikut terendam banjir saat ini. Melihat kondisi air yang terus naik dan arus yang cukup deras, kami memutuskan untuk menghentikan seluruh aktivitas proyek dan operasional di lapangan secara total. Langkah ini kami ambil demi keselamatan para pekerja dan aset perusahaan. Saat ini kami masih memantau perkembangan ketinggian air dari waktu ke waktu, dan operasional baru akan kami mulai kembali setelah air surut dan jalur dinyatakan aman untuk dilalui,” ungkap perwakilan PT MBJ.
Lebih lanjut, untuk meminimalkan dampak di masa mendatang, perusahaan kini tengah melakukan langkah mitigasi di lokasi. Upaya yang dilakukan antara lain dengan memperlebar aliran air serta memperbesar saluran drainase di sepanjang trase jalan milik perusahaan agar aliran air dapat lebih lancar dan mengurangi risiko genangan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa. Meski demikian, warga mulai merasa khawatir. Jika banjir tidak segera surut, dikhawatirkan stok pangan akan menipis dan kondisi ekonomi masyarakat akan semakin tertekan.
( Biro Muba Sukri )



