Palembang, Sriwijaya-hariini.com – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas sebagai Puteri Anak Indonesia Pariwisata 2024, senyum manis Maylafazza Alkayla Giffary, atau akrab disapa Key Giffary, merekah dengan pesan yang menghangatkan hati. Bukan sekadar ucapan formal, Key Giffary mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk benar-benar meresapi makna dari Hari Ibu. Selasa (09/12/2025).
Pada momen spesial ini, Key Giffary, yang juga merupakan duta cilik dari keindahan budaya dan pariwisata Indonesia, menyampaikan apresiasi terdalamnya. Namun, pesannya jauh dari kesan seremonial.
“Selamat Hari Ibu untuk semua Bunda yang luar biasa! Bukan hanya hari ini kita harus berterima kasih, tapi setiap hari. Sosok Ibu itu adalah sekolah pertama kita, pemandu wisata terbaik dalam hidup, dan pelabuhan paling aman saat kita lelah,” ujar Key dengan nada tulus yang mencerminkan kedewasaan di balik usianya yang belia.
Lebih dari Sekadar Tanggal Merah Key Giffary menyoroti bahwa peran Ibu melampaui tugas sehari-hari. Ia adalah pondasi karakter, sumber inspirasi, dan pahlawan tanpa tanda jasa yang mengayomi.
“Ibu saya, seperti Ibu-ibu di seluruh Indonesia, adalah alasan saya bisa berdiri di titik ini. Beliau mengajarkan saya bahwa pariwisata bukan hanya tentang tempat indah, tapi juga tentang hati yang indah saat melayani dan memperkenalkan kebudayaan kita,” tambahnya.
Melalui pesannya, Key Giffary mengajak kita semua untuk sejenak berhenti, menatap mata Ibu kita, dan mengucapkan terima kasih yang jujur dan personal. Bisa jadi melalui sepiring makanan kesukaan, atau sekadar waktu luang tanpa gangguan gawai.
Sebagai ikon anak muda, Key Giffary berharap peringatan Hari Ibu ini menjadi momentum refleksi bagi generasi muda.
1. Ingatlah Pengorbanan: Hargai setiap keringat dan senyum lelah Ibu Anda.
2. Jadikan Inspirasi: Ambil semangat Ibu sebagai pendorong untuk berprestasi dan berkreasi.
3. Warisi Nilai Luhur: Lanjutkan ajaran kebaikan dan kearifan lokal yang ditanamkan oleh Ibu.
Pesan tulus dari Puteri Anak Indonesia Pariwisata ini bukan hanya ucapan selamat, melainkan ajakan humanis untuk kembali memeluk erat nilai-nilai kekeluargaan dan kasih sayang abadi seorang Ibu, yang menjadi tiang penyangga bagi keharmonisan keluarga dan kemajuan bangsa. (Nopi)



