Palembang, Sriwijaya-hariini.com – Semangat menghidupkan kembali warisan perjuangan ulama besar Palembang, Kiai Marogan, menjadi ruh utama pelaksanaan Festival Marogan 2026 yang digelar dalam rangka Milad ke-16 Pesantren Tahfidz Kiai Marogan di Talang Betutu, Minggu (19/07/2026).
Mengusung tema “Menghidupkan Kembali Warisan Marogan untuk Generasi Masa Depan”, festival ini menghadirkan beragam kegiatan bernilai edukatif, religius, sosial, dan budaya. Mulai dari lomba hadroh dan rebana, lomba mewarnai, mancing mania, donor darah, kajian Magnet Rezeki, ruqyah syar’iyyah, hingga pelayanan cek kesehatan gratis yang mendapat sambutan antusias masyarakat.
Suasana festival semakin semarak dengan keikutsertaan kelompok ibu-ibu dalam lomba hadroh dan rebana, sementara sekitar seratus anak mengikuti lomba mewarnai sebagai bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap nilai-nilai Islam sejak usia dini.
Pendiri sekaligus Pengasuh Ponpes dan Sekolah Alam Kiai Marogan, Masagus Ahmad Fauzan, S.Q., yang akrab disapa Ustadz Yayan, mengatakan bahwa Milad ke-16 bukan sekadar peringatan hari lahir pesantren, tetapi menjadi momentum memperluas manfaat pesantren bagi seluruh lapisan masyarakat.
”Harapan kami, pesantren ini terus memberikan manfaat bagi masyarakat luas, mulai dari usia dini hingga usia lansia. Kami ingin semakin banyak orang tua yang dapat belajar agama sekaligus mendapatkan ketenangan, suasana yang menyejukkan, dan healing di lingkungan pesantren,” ujar Ustadz Yayan.
Sebagai bentuk inovasi pelayanan pendidikan Islam, Pesantren Kiai Marogan akan resmi membuka Program Pesantren Lansia mulai 1 Agustus 2026. Program tersebut telah didukung fasilitas yang siap digunakan serta didampingi tenaga profesional, termasuk psikolog dan dokter. Saat ini tercatat sekitar 20 peserta lansia telah mendaftarkan diri.
Program ini menawarkan berbagai pilihan, mulai dari kegiatan harian tanpa menginap, program MABIT akhir pekan, program mingguan, hingga program bulanan. Selain memperdalam ilmu agama, para peserta juga diajak mengikuti aktivitas healing melalui berkebun, bersantai di pondok-pondok, serta menikmati suasana alami di tepi sungai yang berada di kawasan pesantren.
Menurut Ustadz Yayan, program tersebut juga memiliki misi sosial yang kuat. Biaya yang dibayarkan peserta lansia akan digunakan sepenuhnya sebagai subsidi silang untuk membiayai pendidikan anak-anak yatim yang menempuh pendidikan di pesantren secara gratis.
”Program lansia ini memang berbayar karena sebagian besar peserta memiliki penghasilan atau uang pensiun. Namun seluruh hasilnya kami gunakan untuk membantu pendidikan anak-anak yatim yang belajar di pesantren tanpa dipungut biaya. Kami ingin tercipta keluarga besar pesantren, di mana para lansia dan anak-anak yatim dapat saling menguatkan dan berbagi kasih sayang,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Pesantren Tahfidz Kiai Marogan juga tengah mempersiapkan pembangunan studio film Islami dan mini theater sebagai sarana dakwah kreatif sekaligus media pembelajaran berbasis teknologi yang diharapkan mampu menjangkau generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Yayan turut menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terhadap perkembangan pesantren. Ia berharap sinergi tersebut terus terjalin sehingga manfaat pesantren semakin dirasakan masyarakat.
Melalui Festival Marogan 2026, Pesantren Tahfidz Kiai Marogan menegaskan komitmennya sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak generasi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadi pusat dakwah, pemberdayaan masyarakat, pelayanan sosial, serta pembinaan sepanjang hayat, mulai dari anak-anak hingga para lansia. (Nopi)

