Palembang – SHI.com , Apa yang terlintas di pikiran teman-teman ketika mendengar kata Palembang? Mayoritas akan mengingat pempek, jembatan ampera ataupun songket. Pada umumnya kain songket jauh lebih dikenal pada masyarakat global. Akan tetapi selain songket, Palembang punya kain khas lain lho, yakni kain jumputan. Ada yang tahu kain apa itu?
Kain jumputan adalah kain yang dibuat dengan teknik dijumput dan direndam dalam pewarna alami maupun pewarna tekstil. Namun, mayoritas untuk kain jumputan sendiri dicelup dengan pewarna alami. Adapun yang membedakan kain jumputan Palembang dengan yang lainnya adalah motifnya. Karena kain jumputan ini tidaklah terlalu populer seperti kain songket, sehingga hal tersebut membuat kain jumputan ini tidak dikenal masyarakat luas. Terlebih lagi kaum millenial.
Oleh sebab itu para awardee Beasiswa Indonesia Maju asal Provinsi Sumatera Selatan melakukan kegiatan proyek sosial pelestarian kain jumputan, agar para generasi muda tidak melupakan ciri khas budaya Indonesia dan Warisan Negara Indoneisa, yakni salah satunya Kain Jumputan Khas Palembang
Para awardee menamai proyek sosial ini dengan nama JumputanKita. Yang mana proyek sosial ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya melestarikan kain jumputan, serta memperkenalkan kreasi dan inovasi dari produk jumputan, sehingga menumbuhkan rasa bangga memiliki jumputan khususnya para remaja sebagai warisan budaya. Mereka memulai proyek sosial tersebut dengan mengamati keberadaan Jumputan di masyarakat dengan cara melakukan wawancara kepada salah satu karyawan di Griya Kain Tuan Kentang.
Tim JumputanKita (I-27) sendiri berasal dari Sumatera Selatan yang terdiri dari 5 anggota yaitu Giselle Angela Hanjaya Putri (SMA IGS Palembang), Natasha Angel Sukanto (SMA IGS Palembang), Olivia Marshanda (SMA IGS Palembang), Aliyah Nur Dafika (SMAN 01 Palembang), dan Zaki Fathi Fahrizal (SMA IGS Palembang).
Pada Senin (17/11/2022), para Awardee BIM tim JumputanKita melakukan kunjungan ke salah satu tempat di Tuan Kentang tepatnya di Jalan Aiptu A Wahab, Kelurahan Tuan Kentang, Kecamatan Jakabaring, Kota Palembang, Sumatera selatan untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang kain jumputan dengan belajar menjahit, mengikat dan melihat proses pencelupan kain jumputan.
Tim JumputanKita merasa antusias mengikuti proses pembuatan kain jumputan yang dibantu oleh salah satu karyawan disana. Mereka memperhatikan secara seksama setiap tahap agar menghasilkan kain jumputan dengan ciri khas yang unik dan nilai seni yang tinggi, serta mereka bergantian mencoba melakukannya secara langsung.
Selain belajar tentang cara pembuatan, tim JumputanKita juga mengajukan beberapa pertanyaan seputar kain jumputan, seperti motif dan pewarna yang dipakai. Ternyata, ciri khas kain jumputan Palembang terletak pada motifnya yang unik yaitu bintik tujuh. Motif bintik tujuh memiliki 7 bintik putih dan gradiasi warna sebagai hasil dari proses teknik pewarnaan ikat-celup. Motif ini juga melambangkan 7 lapisan langit. Lalu, ada beberapa pilihan pewarnaan pada kain jumputan yaitu pewarna alami gambir, ecoprint, dan pewarna tekstil.
“Di Tuan Kentang, kami mengunjungi beberapa tempat pengrajin untuk belajar membuat kain jumputan, mulai dari proses menjahit, pengikatan, pewarnaan dan pengeringan.” ucap Aliyah Nur Dafika sebagai salah satu perwakilan tim JumputanKita.
Tak hanya ke tempat pengrajin, tim JumputanKita juga datang ke Griya Kain Tuan Kentang. Griya Kain Tuan Kentang merupakan tempat yang menjual pakaian jumputan dengan kualitas tinggi. Selain menjual produk, mereka juga membuka kelas bagi siapa yang ingin belajar membuat jumputan.
“Senang rasanya memiliki generasi muda yang masih peduli dengan warisan budaya lokal. Kain Jumputan merupakan kain khas Sumatera Selatan dengan motif titik 7 dan memiliki nilai keindahan tersendiri. Keunikan motif dan hasil pewarnaannya sangat dipengaruhi oleh keterampilan dari pengrajinnya, makanya pelestarian kain jumputan sangat penting.” Ucap Sopian Chandra selaku perwakilan Griya Kain Tuan Kentang.
Setelah mendapatkan ilmu tersebut, tim JumputanKita mulai mengedukasi membuat produk sapu tangan jumputan kepada orang sekitar, contohnya teman sekelas. Mereka mengajarkan cara pengikatan, pewarnaan, hingga pengeringan. Tak lupa dengan penjelasan mengenai kain jumputan seperti motifnya.
Beberapa peserta JumputanKita Road to School mengakui mereka mengetahui banyak hal baru dari event ini. Dari yang sebelumnya belum pernah mendengar kata Jumputan, sekarang menjadi kenal dengan keunikan khas Sumatera Selatan ini. Berikut testimoni/respon dari peserta proyek sosial.
“Coach-nya bagus banget, diajarin cara menjumput dengan sabar, dan juga memberitahu asal dan perbedaan jumputan Palembang dari yang lain.” Ucap Abyaz salah satu peserta proyek sosial
“Seru banget. Mudah dimengerti. Coach-nya ramah bintang 5!” Respon Vanny peserta proyek sosial.
“Coach-nya ngejelasinnya sangat bagus dari cara penyampaiannya jelas. Bintang 5!” Jelas Nasya memberikan tanggapan terkait kegiatan proyek sosial.
“Asik banget! Tadi kita belajar ngejumput ternyata enggak sulit kalau emang mau belajar dan diajarin sampai jelas!” Ucap Karen memberikan testimoni.
Tim JumputanKita juga melakukan event bertajuk “Jumputan Road to School” dengan mengunjungi beberapa sekolah, yaitu SMA Ignatius Palembang dengan total 84 peserta dan SMA Negeri 01 Palembang dengan total 150 peserta. Event ini bertujuan memperkenalkan jumputan dan melakukan pembuatan kain jumputan bersama. Pada event tersebut, terdapat 3 aktivitas utama yaitu talkshow, fashion show, dan workshop.
JumputanKita telah bekerjasama dengan dinas pemprov, OSIS dan Griya Kain Tuan Kentang dalam melaksanakan event tersebut. Mereka mengundang Pak Sopian dari Griya Kain sebagai narasumber talkshow untuk sarana memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta mengenai jumputan. Selanjutnya, pakaian jumputan dari Griya Kain diperlihatkan melalui fashion show untuk menunjukkan keunikkan dan keindahan dari pakaian tersebut dengan modelnya dari masing-masing sekolah. Terakhir, workshop merupakan kegiatan edukasi kepada peserta secara praktek dengan membuat produk sapu tangan jumputan bersama.
“After this event I know Jumputan is a traditional cloth and as young generation we should preserve it.” Ucap Natasha Suhendra peserta event JumputanKita Road to School.
“After participating, I know that jumputan is a significant part of our culture and we should pass on to the next generation.” Jelas Zetya menanggapi kegiatan proyek sosial.
“Now I know that menjumput is a unique technique to make jumputan and the pattern is also extraordinary!” Ucap Kal salah satu peserta kegiatan proyek sosial.
Tak hanya itu, JumputanKita Road to School part 2 juga telah dilaksanakan pada 08 Desember 2022 di SMA Negeri 01 Palembang. Acara ini mencetak peserta sebanyak 200 peserta dari beberapa sekolah di Palembang. Acara tersebut dihadiri oleh Kak Marissinaga sebagai perwakilan BIM pusat untuk mengevaluasi proyek sosial JumputanKita. Banyak teman-teman dari sekolah lain yang saling bersosialisasi melalui event Jumputan ini! Acara ini juga membuka bazaar makanan dan booth jumputan untuk bisa dilihat dan dibeli oleh para peserta.
Harapan dari proyek sosial JumputanKita yaitu agar remaja dapat melestarikan kebudayaan Indonesia, khususnya Sumatera Selatan mengenai kain Jumputan melalui kegiatan yang diberikan melalui proyek sosial ini. Tim JumputanKita berharap dapat mengembangkan proyek ini dengan membuat dan menghasilkan inovasi produk di masa depan, tentu perlu adanya sponsor dan volunteer dalam mewujudkan harapan tersebut, sehingga dapat diteruskan ke digital marketing dan membuka lapangan pekerjaan.(redaksi)



